:
Breaking News

Di Trotoar Itu, Kemerdekaan Menemukan Wajahnya

top-news

Oleh: Moh. Rasul Junaidy

Belum ada dentuman drum band. Belum terdengar aba-aba pasukan pengibar bendera. Upacara 17 Agustus masih menghitung hari. Namun, di Jalan Trunojoyo, Sumenep, kemerdekaan seolah datang lebih awal.

Ia hadir dalam bentuk yang sederhana: lembaran-lembaran kain merah putih yang bergoyang pelan di bawah rindangnya pepohonan. Di sepanjang trotoar, puluhan bendera berbagai ukuran tergantung berdampingan dengan umbul-umbul, gapura mini, hingga pita merah putih. Dari kejauhan, jalan itu tampak seperti lorong yang dibalut warna nasional.

Tak ada panggung. Tak ada seremoni.

Hanya ada para pedagang yang sabar menunggu.

Setiap akhir Juli, mereka datang. Bukan dari desa-desa sekitar Sumenep, melainkan dari Bandung, Jawa Barat, kota yang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat industri tekstil dan konveksi nasional.

Perjalanan mereka bukan sekadar berdagang. Ia telah menjadi ritual tahunan yang berulang selama bertahun-tahun.

Mereka menempuh ratusan kilometer, menyeberangi laut menuju Madura, lalu membangun lapak-lapak sederhana di bawah pepohonan Jalan Trunojoyo. Selama hampir sebulan mereka tinggal sementara, hidup bersama keluarga atau rekan sesama pedagang, sebelum kembali pulang setelah gegap gempita Hari Kemerdekaan usai.

Agustus bagi mereka bukan sekadar bulan patriotisme.

Agustus adalah musim mencari penghidupan.

Di balik setiap bendera yang berkibar, tersimpan ongkos perjalanan, biaya sewa tempat tinggal sementara, dan harapan agar dagangan habis sebelum tanggal 17.

Sri sudah hafal ritmenya.

Perempuan asal Bandung itu tampak sibuk merapikan tumpukan bendera kecil di sudut lapaknya. Sesekali ia mengusap debu yang menempel pada kain merah putih yang belum sempat disentuh pembeli.

Ia tidak terlihat cemas meski pembeli belum ramai.

"Untuk sekarang ini masih sepi. Mungkin karena baru awal Agustus. Biasanya dua atau tiga hari menjelang 17 Agustus, pembeli ramai sekali," katanya.

Kalimat itu diucapkan tanpa keluhan.

Seolah ia sedang menceritakan hukum alam yang sudah berulang setiap tahun.

Ia tahu kapan jalan akan mulai padat. Ia tahu kapan sekolah, kantor pemerintahan, toko-toko, hingga warga desa datang membeli bendera baru. Ia juga tahu kapan dagangannya harus mulai dikemas kembali untuk dibawa pulang.

Kesabaran menjadi modal utama.

Ada ironi yang menarik dari pemandangan di Jalan Trunojoyo.

Simbol-simbol nasional yang identik dengan semangat kebangsaan justru banyak dijajakan oleh para perantau.

Mereka bukan warga Sumenep.

Tetapi setiap Agustus, merekalah yang lebih dahulu menghadirkan suasana kemerdekaan di kota ini.

Trotoar berubah menjadi galeri patriotisme.

Kain merah putih yang bergantungan membentuk lorong warna. Umbul-umbul yang menjuntai memecah monoton jalan raya. Orang-orang yang melintas memperlambat laju kendaraan, sekadar melihat-lihat atau berhenti memilih ukuran bendera yang akan dipasang di rumah.

Perlahan, kota berubah wajah.

Bukan oleh proyek besar.

Bukan pula oleh dekorasi resmi pemerintah.

Melainkan oleh lapak-lapak kecil yang berdiri dengan tiang bambu dan tali rafia.

Tradisi menjual bendera menjelang Hari Kemerdekaan sebenarnya telah berlangsung selama puluhan tahun di berbagai daerah Indonesia. Namun, setiap kota memiliki kisahnya sendiri.

Di Sumenep, Jalan Trunojoyo menjadi panggung yang selalu hidup setiap Agustus.

Ia bukan lagi sekadar ruas jalan yang menghubungkan pusat kota dengan kawasan lain.

Ia berubah menjadi ruang perjumpaan.

Pembeli datang dengan berbagai alasan.

Ada yang mengganti bendera lama karena warnanya mulai pudar.

Ada sekolah yang membutuhkan umbul-umbul.

Ada kantor desa yang hendak mempercantik halaman.

Ada pula orang tua yang mengajak anak-anaknya memilih bendera pertama untuk dipasang di depan rumah.

Di tempat itu, transaksi ekonomi berjalan berdampingan dengan ingatan kolektif tentang bangsa.

Bendera memang hanya selembar kain.

Namun ketika ia mulai berkibar, maknanya berubah.

Ia menjadi penanda waktu.

Tanda bahwa Agustus telah tiba.

Tanda bahwa sebuah bangsa kembali mengingat hari ketika kemerdekaan diproklamasikan.

Bagi Sri dan para pedagang lain, merah putih juga memiliki arti yang lebih personal.

Ia adalah sumber penghasilan.

Ia adalah biaya sekolah anak.

Ia adalah ongkos hidup yang diperjuangkan melalui perjalanan lintas pulau setiap tahun.

Kemerdekaan, bagi mereka, bukan hanya diperingati.

Tetapi juga dihidupi.

Menjelang senja, angin bertiup lebih kencang.

Puluhan bendera bergoyang serempak, menciptakan suara gemerisik halus yang nyaris menyerupai tepuk tangan.

Orang-orang terus berlalu-lalang.

Sebagian berhenti, sebagian hanya memandang.

Namun hampir semua mengangkat mata sejenak ke arah merah putih yang berkibar di atas kepala mereka.

Barangkali, di situlah makna paling sederhana dari perayaan kemerdekaan.

Bahwa rasa cinta kepada negeri ini tidak selalu lahir dari pidato panjang atau upacara megah.

Kadang ia tumbuh di trotoar yang teduh, dari tangan-tangan pedagang musiman yang sabar menunggu pembeli, sembari menjaga agar merah putih tetap berkibar lebih dulu sebelum akhirnya memenuhi halaman-halaman rumah di seluruh kota.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *