Apen Parsanga, Jejak Manis Tiga Generasi yang Menolak Dilupakan
- Yudie -
- 21 Jul, 2026
SUMENEP I MaduraNetwork.id - Di Desa Parsanga, Sumenep, sepotong apen bukan sekadar jajanan pasar. Ia adalah resep keluarga yang bertahan lintas generasi, sekaligus bukti bahwa kuliner tradisional dapat tetap hidup tanpa kehilangan jati diri.
Pagi di Desa Parsanga, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, selalu dimulai lebih awal dibandingkan keramaian pasar. Ketika sebagian orang baru membuka pintu rumah, aroma adonan yang dipanggang di atas cetakan tanah liat telah memenuhi dapur milik Kus Suryati.
Di sanalah apen dibuat. Sederhana bentuknya, bundar, bertekstur lembut, dengan permukaan berpori yang menjadi ciri khasnya. Namun, bagi warga Sumenep, apen adalah bagian dari ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi Kus, usaha itu bukan dimulai dari dirinya. Ia hanya melanjutkan perjalanan panjang yang telah dirintis sang nenek, Mbah Atik.
"Saya tidak tahu persis kapan usaha ini dimulai. Sejak kecil nenek memang sudah berjualan apen. Saya baru meneruskannya sekitar tahun 2000-an," kata Kus saat ditemui di rumah produksinya.
Di tengah gempuran makanan modern yang silih berganti memenuhi lini media sosial, kisah apen Parsanga justru bergerak ke arah sebaliknya. Ia bertahan karena memilih setia pada akar.
Resep yang Tidak Berubah
Selama puluhan tahun, resep dasar apen nyaris tidak mengalami perubahan. Tepung beras, santan, dan proses pemanggangan tradisional tetap menjadi fondasi rasa yang dipertahankan keluarga Kus.
Yang berubah hanyalah cara menghadirkan pengalaman baru kepada konsumen.
Jika dahulu apen hanya dikenal dalam warna putih kekuningan, kini muncul Apen Rainbow, inovasi yang lahir tanpa meninggalkan prinsip alami.
Warna kuning berasal dari telur ayam kampung. Hijau dihasilkan dari perpaduan daun pandan dan daun suji. Sementara merah diperoleh dari sari buah naga. Tidak ada pewarna sintetis yang digunakan.
Pilihan itu mungkin terlihat sederhana. Namun, di tengah kecenderungan industri makanan mengejar tampilan instan, keputusan menggunakan pewarna alami justru menjadi identitas yang membedakan produk mereka.
Harga pun tetap bersahabat. Apen original dijual Rp12 ribu per kemasan, sedangkan Apen Rainbow Rp15 ribu untuk sepuluh potong.
Ketika Tradisi Bertemu Pasar
Momentum penting datang ketika Kus mengikuti lomba kuliner UMKM pada awal tahun 2000-an. Penghargaan yang diperoleh membuka jalan agar apen Parsanga dikenal lebih luas.
Sejak itu, pesanan terus berdatangan.
Hari-hari biasa menghasilkan omzet sekitar Rp500 ribu. Saat Idulfitri, reuni keluarga, atau kegiatan instansi pemerintah, angka itu bisa menembus Rp800 ribu hingga lebih dari Rp1 juta per hari.
Bahkan, apen mulai hadir di meja rapat kantor pemerintahan, menggantikan dominasi roti modern sebagai sajian tamu.
Fenomena ini menunjukkan perubahan menarik dalam pola konsumsi masyarakat. Kuliner tradisional tidak lagi sekadar hadir di pasar desa, tetapi mulai mendapatkan ruang dalam berbagai acara formal.
Promosi dari Status WhatsApp
Di tengah derasnya promosi digital melalui TikTok atau Instagram, Kus memilih jalur yang lebih sederhana.
Sebagian besar pembeli mengenal produknya melalui telepon seluler dan fitur Status WhatsApp.
Cara lain datang melalui jaringan pedagang pasar yang setiap pagi mengambil produk langsung dari rumah produksi.
Bagi Kus, pola distribusi itu masih sangat efektif.
"Hampir setiap pagi habis terjual," ujarnya.
Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi digital UMKM tidak selalu harus mengikuti tren media sosial yang sedang populer. Kepercayaan pelanggan yang dibangun selama bertahun-tahun sering kali menjadi saluran pemasaran paling kuat.
Merawat Warisan, Bukan Sekadar Menjual Makanan
Di rumah produksi sederhana itu, jumlah pekerja bertambah ketika pesanan meningkat. Produksi dilakukan sesuai kebutuhan agar kualitas tetap terjaga.
Persaingan tentu ada. Berbagai jajanan modern terus bermunculan. Namun Kus percaya, pelanggan datang bukan hanya membeli rasa, melainkan juga kepercayaan.
Kepercayaan itulah yang diwariskan Mbah Atik kepada anak cucunya.
Di tangan generasi ketiga, apen tidak sekadar bertahan sebagai makanan tradisional. Ia menjelma menjadi simbol bahwa sebuah warisan budaya dapat terus hidup apabila dijaga dengan kesabaran, kualitas, dan keberanian beradaptasi.
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, kisah Apen Parsanga mengingatkan bahwa masa depan kuliner Indonesia tidak selalu lahir dari sesuatu yang baru. Kadang, ia justru tumbuh dari resep lama yang tetap setia pada asal-usulnya.
Karena pada akhirnya, makanan tradisional bukan hanya soal mengenyangkan perut. Ia menyimpan cerita tentang keluarga, ingatan, dan identitas sebuah daerah yang tak ingin kehilangan rasa.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *


