Gotong Royong Membangun Harapan: Rumah Pak Ibnu menjadi Wajah Lain Bakti TNI di Sumenep
- Admin -
- 06 Aug, 2026
Pembangunan rumah tersebut merupakan bagian dari program Bakti TNI AD untuk Rakyat yang dijalankan Kodim 0827/Sumenep. Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) itu tidak hanya melibatkan prajurit TNI, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi gotong royong masyarakat desa.
Rabu (5/8), Babinsa Koramil 0827/04 Bluto, Serda Sufyanto, kembali memimpin pekerjaan bersama warga. Tahapan pembangunan kini memasuki pemasangan pondasi, penyusunan dinding, pemasangan kusen, hingga plester dinding. Proses itu berlangsung setelah rumah lama milik Ibnu dibongkar sepenuhnya beberapa hari sebelumnya.
Di lokasi pembangunan, tumpukan material mulai memenuhi halaman. Pasir, batu putih, semen, keramik, cat, kusen, kloset, pintu kamar mandi, hingga lembaran asbes telah tersedia. Kesiapan material itu menjadi penanda bahwa pembangunan memasuki fase yang lebih cepat.
Namun, yang paling menonjol bukanlah banyaknya material bangunan, melainkan keterlibatan warga. Mereka datang bergantian membantu pekerjaan tanpa menunggu imbalan. Di sela aktivitas sehari-hari, mereka mengangkat batu, mengaduk semen, dan memasang bata bersama anggota TNI.
"Kalau cuaca mendukung, setiap hari kita gas terus. Warga juga semangat turun membantu, jadi terlihat kemajuannya," kata Sufyanto.
Bagi prajurit yang bertugas sebagai pembina desa itu, keberhasilan program tidak semata diukur dari berdirinya bangunan baru. Yang lebih penting adalah bagaimana pembangunan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara TNI dan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan sosial secara bersama-sama.
Program RTLH selama ini menjadi salah satu bentuk pengabdian TNI di luar tugas pertahanan. Di berbagai daerah, rumah-rumah warga yang sebelumnya tidak memenuhi standar kelayakan diperbaiki agar memberikan lingkungan hidup yang lebih sehat, aman, dan manusiawi.
Di Kabupaten Sumenep, pendekatan itu terlihat nyata. Kehadiran Babinsa bukan hanya mengawasi pekerjaan, tetapi ikut mengangkat material, mengukur bangunan, hingga memastikan proses pembangunan berjalan sesuai rencana.
Sufyanto berharap rumah baru milik Ibnu segera rampung sehingga keluarga tersebut dapat meninggalkan tempat tinggal lamanya yang sudah tidak layak.
"Target kami rumah ini cepat selesai. Biar Pak Ibnu dan keluarganya segera pindah ke rumah yang lebih layak, itu saja yang kami kejar," ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan pedesaan, kisah rumah Ibnu memperlihatkan bahwa persoalan hunian tidak selalu selesai melalui anggaran besar. Ketika negara hadir melalui program Bakti TNI AD dan masyarakat ikut bergotong royong, rumah sederhana dapat berubah menjadi simbol kepedulian bersama.
Di Desa Guluk Manjung, pembangunan itu bukan hanya mendirikan dinding dan atap. Ia juga membangun rasa kebersamaan, memperkuat solidaritas warga, serta menghadirkan keyakinan bahwa kesejahteraan dapat dimulai dari sebuah rumah yang layak dihuni.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *

