:

Jejak Sejarah Nama -Nama di Desa Kecamatan Gapura di Sumenep, Berawal dari Pintu Gerbang Keraton hingga menjadi Tiga Nama Desa

top-news
https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

SUMENEP I MaduraNetwork.id – Nama Gapura tidak hanya dikenal sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Sumenep, tetapi juga melekat pada tiga desa yang berada di wilayah tersebut, yakni Gapura Barat, Gapura Tengah, dan Gapura Timur. Di balik nama itu tersimpan sejarah panjang yang hingga kini masih hidup dalam cerita masyarakat setempat.

 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep melalui publikasi Kecamatan Gapura dalam Angka 2025, Kecamatan Gapura memiliki luas wilayah sekitar 65,88 kilometer persegi dan membawahi 17 desa.

 

Dari ketiga desa yang menggunakan nama Gapura, Desa Gapura Barat berada tepat di pusat pemerintahan kecamatan dengan luas sekitar 3,66 kilometer persegi. Sementara Gapura Tengah memiliki luas 4,99 kilometer persegi dan berjarak sekitar satu kilometer dari pusat kecamatan. Adapun Gapura Timur seluas 2,63 kilometer persegi berada sekitar empat kilometer dari pusat pemerintahan.

 

Media Center Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sumenep melalui kajian penelusuran sejarah nama-nama desa menempatkan ketiga desa tersebut dalam satu pembahasan karena memiliki akar penamaan yang sama, yakni "Gapura".

 

Secara bahasa, gapura berarti pintu gerbang. Dalam pelafalan masyarakat Madura, nama tersebut lebih dikenal dengan sebutan Gappora, namun tetap memiliki makna yang sama.

 

Dalam buku Sejarah Sumenep (2003) disebutkan bahwa istilah gapura dikaitkan dengan salah satu Asmaul Husna, yakni Al-Ghafur, yang berarti Yang Maha Pengampun. Kata tersebut berasal dari bahasa Arab ghafara-yaghfiru-ghufranan. Secara filosofis, para sesepuh memaknai gapura sebagai pintu gerbang yang menjadi simbol harapan agar setiap orang yang melintasinya memperoleh ampunan dari Allah SWT.

 

Seiring perkembangan zaman, gapura kemudian dikenal sebagai pintu masuk menuju kawasan penting atau sakral, seperti masjid, keraton, permukiman, hingga kompleks tertentu.

 

Sementara itu, berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat, kawasan Gapura dahulu diyakini memiliki sebuah pintu gerbang besar yang dibangun oleh penguasa Sumenep pada masanya.

 

"Menurut cerita turun-temurun, disebut Gapura karena di sini dibangun pintu gerbang besar, atau yang dikenal dengan gapura," ujar Sekretaris Desa Gapura Barat, Rahmat Hidayat, kepada Media Center.

 

Rahmat menuturkan, bangunan gapura asli tersebut kini sudah tidak lagi ditemukan. Sebagai penanda sejarah, masyarakat kemudian membangun gapura baru di lokasi yang diyakini menjadi titik keberadaan gerbang lama.

 

"Kalau yang asli sudah tidak ada lagi, entah sejak kapan hilangnya," katanya.

 

Meski demikian, belum terdapat bukti sejarah yang memastikan kapan gerbang tersebut dibangun maupun siapa tokoh yang mendirikannya.


Bendahara Desa Gapura Barat, Iktoyo, menyebut cerita turun-temurun itu kerap dikaitkan dengan tokoh legendaris Keraton Sumenep, Jokotole. Namun, menurutnya, kisah tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut karena sumber sejarah yang tersedia semakin terbatas.

 

Di sisi lain, terdapat sumber lain yang menghubungkan keberadaan gapura tersebut dengan Aria Wigananda, putra sekaligus penerus Jokotole sebagaimana tercatat dalam Babad Songennep (1914). Keduanya diperkirakan hidup pada abad ke-15 Masehi.

 

Dalam sejumlah cerita sejarah disebutkan bahwa wilayah Gapura pernah menjadi pusat pemerintahan Keraton Sumenep pada masa Aria Wigananda. Saat itu, ibu kota kerajaan dipindahkan dari kawasan Banasare ke wilayah yang kini berada di Kecamatan Gapura.

 

Penelusuran sejarah mengenai asal-usul nama Gapura ini masih terus dilakukan untuk menggali lebih dalam jejak peradaban dan perkembangan Keraton Sumenep pada masa lampau.

(Bersambung)

 

https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *