:

BRIDA Sumenep Menyusun Peta Jalan Produk Unggulan Berbasis Riset

top-news
https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

SUMENEP I MaduraNetwork.id – Di balik hamparan ladang garam, sentra pertanian, perairan yang kaya hasil laut, hingga kerajinan keris yang telah mengangkat nama Sumenep sebagai Kota Keris, pemerintah daerah mulai mengubah cara membaca potensi ekonomi. Bukan lagi sekadar mengandalkan intuisi atau kebiasaan, tetapi melalui riset yang terukur.

 

Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep kini menempatkan penelitian sebagai fondasi dalam merancang arah pembangunan ekonomi. Lembaga itu tengah menyusun peta kawasan produk unggulan daerah yang diharapkan menjadi acuan kebijakan pembangunan lima tahun ke depan.

 

Pendekatan tersebut menjadi penanda pergeseran paradigma pembangunan daerah: dari kebijakan yang bersifat administratif menuju kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

 

"Kami ingin memastikan setiap wilayah berkembang sesuai kekuatan yang dimilikinya. Karena itu, potensi lokal harus dipetakan melalui kajian ilmiah agar dapat dikembangkan menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing," kata Kepala BRIDA Kabupaten Sumenep, Siswahyudi Bintoro, dalam Focus Group Discussion (FGD) laporan pendahuluan di Kantor BRIDA, awal Juli lalu.

 

Bagi Siswahyudi, riset tidak berhenti pada penyusunan dokumen akademik. Kajian itu harus mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang menghasilkan nilai ekonomi baru, membuka kesempatan kerja, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

Kabupaten Sumenep memiliki karakter geografis yang kompleks. Wilayah ini terdiri atas 27 kecamatan, dengan 18 kecamatan di daratan dan sembilan kecamatan kepulauan. Setiap kawasan memiliki karakter ekonomi yang berbeda, mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, produksi garam, kerajinan keris, pariwisata, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

 

Keragaman tersebut selama ini menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Tidak semua potensi berkembang optimal karena belum memiliki arah pengembangan yang terintegrasi.

 

Melalui FGD yang melibatkan Bappeda, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Diskop UKM Perindag, DPMD, Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Lingkungan Hidup, DPMPTSP, hingga pemerintah kecamatan, BRIDA berupaya membangun kesamaan persepsi sebelum penelitian lapangan dimulai.

 

Kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah dinilai penting agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai laporan, melainkan dapat diimplementasikan dalam program pembangunan.

 

"Kami mengawal penelitian ini sejak tahap awal agar rekomendasinya benar-benar dapat menjadi dasar kebijakan strategis yang memperkuat produk unggulan daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Siswahyudi.

 

Ia menegaskan bahwa seluruh sektor strategis akan menjadi bagian dari kajian. Tidak hanya pertanian, perikanan, garam, dan UMKM, tetapi juga industri keris yang selama ini menjadi identitas budaya sekaligus potensi ekonomi Kabupaten Sumenep.

 

Seluruh rekomendasi nantinya disusun dengan mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sumenep 2025–2029 sehingga memiliki keterkaitan langsung dengan agenda pembangunan daerah.

 

Dalam penelitian tersebut, BRIDA menggandeng Universitas Merdeka Malang sebagai mitra akademik.

 

Ketua Tim Pelaksana Kajian, Dr. Catur Wahyudi, menjelaskan penelitian menggunakan pendekatan mixed methods yang mengombinasikan analisis kuantitatif, kualitatif, dan spasial.

 

Pendekatan itu dipilih agar penelitian tidak hanya memotret kondisi ekonomi daerah secara statistik, tetapi juga memahami dinamika sosial masyarakat serta karakteristik kewilayahan.

 

"FGD merupakan tahapan awal untuk menghimpun informasi. Selanjutnya kami akan melakukan analisis komprehensif hingga menghasilkan rekomendasi strategis dan policy brief sebagai dasar pengambilan kebijakan pemerintah daerah," kata Catur.

 

Kajian akan mengidentifikasi komoditas unggulan berdasarkan struktur ekonomi daerah, arah pembangunan dalam RPJMD, tata ruang wilayah, serta karakteristik sumber daya lokal. Seluruh komoditas tersebut kemudian dianalisis dari sisi rantai nilai, peluang pasar, kesiapan kawasan, hingga prospek investasi.

 

Bagi BRIDA, keberhasilan penelitian ini bukan semata menghasilkan daftar komoditas unggulan, melainkan membangun peta jalan pembangunan ekonomi yang realistis dan dapat dijalankan secara bertahap.

 

Jika rekomendasi itu berhasil diterapkan, pemerintah berharap produk-produk lokal tidak hanya memiliki nilai tambah yang lebih tinggi, tetapi juga mampu menarik investasi, memperluas lapangan kerja, meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), serta memperkuat daya saing Kabupaten Sumenep di tingkat regional maupun nasional.

 

Di tengah tuntutan pembangunan yang semakin kompetitif, langkah BRIDA menunjukkan bahwa riset bukan lagi pelengkap birokrasi. Ia mulai diposisikan sebagai mesin yang menghubungkan potensi lokal dengan kebijakan publik—agar kekayaan daerah benar-benar menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.


https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *