Ketika Mahasiswa Dunia Mengajarkan Energi Bersih kepada Anak-anak Sumenep
- Mohammad -
- 03 Aug, 2026
SUMENEP I MaduraNetwork.id - Di sebuah ruang kelas sederhana di Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep, tawa anak-anak terdengar bersamaan dengan berputarnya roda-roda mobil mainan. Kendaraan kecil itu melaju bukan karena baterai sekali pakai atau dorongan tangan, melainkan oleh cahaya matahari yang ditangkap panel surya mungil di atasnya.
Bagi para siswa, permainan itu
adalah pengalaman baru. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan pelajaran
tentang masa depan energi yang lebih bersih—sebuah gagasan yang dibawa oleh
mahasiswa dari lima negara ke salah satu kawasan kepulauan paling terpencil di
Jawa Timur.
Mahasiswa dari Malaysia, Tiongkok,
Hong Kong, Pakistan, dan Universitas Airlangga memilih pendekatan yang berbeda
dalam mengenalkan energi terbarukan. Mereka tidak memulai dengan teori rumit
atau istilah teknis, tetapi melalui permainan merakit mobil bertenaga surya.
Cara belajar yang menyenangkan itu menjadi bagian dari program Sustainable
Energy and Green Technology Applications (SEGTA).
Pilihan lokasi bukan tanpa alasan.
Kabupaten Sumenep memiliki gugusan pulau terbanyak di Jawa Timur. Di balik
keindahan laut dan pulau-pulau kecilnya, masih tersimpan persoalan klasik
berupa keterbatasan akses listrik. Sebagian masyarakat di wilayah kepulauan
belum menikmati pasokan listrik secara penuh sebagaimana warga di daratan.
Kondisi tersebut membuat energi
surya dipandang sebagai salah satu alternatif yang menjanjikan. Wilayah Madura,
termasuk Sumenep, menerima paparan sinar matahari yang melimpah hampir
sepanjang tahun sehingga memiliki potensi besar untuk mengembangkan pembangkit
listrik berbasis energi matahari.
Ketua panitia sekaligus dosen
pendamping program, Ika, mengatakan SEGTA dirancang bukan sekadar mengenalkan
teknologi, melainkan membangun kesadaran sejak dini mengenai pentingnya
transisi menuju energi berkelanjutan.
"Edukasi ini kami kemas
melalui permainan agar siswa lebih mudah memahami manfaat energi terbarukan.
Harapannya, mereka tidak hanya mengenal teknologi ramah lingkungan, tetapi juga
mampu menerapkannya di lingkungan masing-masing, terutama di wilayah kepulauan
yang memiliki potensi energi surya cukup besar," ujarnya.
Pendekatan berbasis praktik itu
membuat konsep energi terbarukan lebih mudah dipahami anak-anak. Mereka tidak
hanya melihat panel surya sebagai benda asing, melainkan memahami bagaimana
cahaya matahari dapat diubah menjadi tenaga yang menggerakkan sebuah kendaraan
mini.
Program SEGTA juga tidak berhenti
pada isu energi. Tim mahasiswa internasional memperkenalkan teknologi
penyaringan air bersih sebagai solusi sederhana bagi masyarakat kepulauan yang
masih menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber air layak konsumsi.
Kolaborasi lintas negara itu
memperlihatkan bahwa tantangan pembangunan di daerah terpencil dapat menjadi
ruang belajar bersama. Mahasiswa memperoleh pengalaman lapangan mengenai
persoalan energi di wilayah kepulauan Indonesia, sementara masyarakat menerima
pengetahuan baru yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten
Sumenep, Moh. Iksan, menilai program tersebut sejalan dengan kebutuhan daerah.
Menurut dia, literasi mengenai energi terbarukan perlu ditanamkan sejak usia
sekolah, terutama bagi anak-anak yang tumbuh di kawasan dengan akses listrik
yang belum sepenuhnya merata.
"Kami mengapresiasi program ini
karena memberikan edukasi sejak dini kepada para siswa mengenai energi
terbarukan. Pemerintah daerah siap mendukung pengembangan program serupa
sebagai upaya mempercepat pemerataan akses energi sekaligus mendukung
digitalisasi pendidikan di wilayah kepulauan," kata Moh. Iksan.
Di tengah berbagai tantangan
pembangunan wilayah kepulauan, inisiatif seperti SEGTA menunjukkan bahwa
perubahan tidak selalu harus dimulai dari proyek berskala besar. Sebuah mobil
mainan yang bergerak karena sinar matahari dapat menjadi pintu masuk bagi
lahirnya generasi yang lebih akrab dengan teknologi hijau.
Bagi Sumenep, yang selama ini
dikenal sebagai kabupaten dengan ratusan pulau, pendidikan mengenai energi
terbarukan bukan sekadar materi pembelajaran. Ia dapat menjadi investasi jangka
panjang untuk menyiapkan masyarakat yang mampu memanfaatkan potensi alamnya
sendiri, ketika matahari bukan lagi hanya sumber cahaya, melainkan sumber
harapan bagi masa depan kepulauan.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *


