Khofifah Ingin Khazanah Ulama Nusantara Mendunia
- Rusli Djunaidi
- 31 Aug, 2026
JOMBANG I MaduraNetwork.id - Warisan
intelektual ulama Nusantara atau turots
dinilai dapat menjadi modal penting bagi Jawa Timur untuk memperkuat kontribusi
Indonesia dalam perkembangan peradaban Islam dunia. Pengembangan turots tidak cukup hanya
dilakukan melalui pelestarian manuskrip, tetapi juga perlu dilanjutkan dengan
penelitian, digitalisasi, dan pengembangan pengetahuan.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa
mengatakan, kekayaan karya intelektual ulama Nusantara merupakan salah satu
kekuatan yang dimiliki Indonesia. Khazanah tersebut, menurut dia, dapat menjadi
sumber pengetahuan untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan masyarakat
masa kini.
”Pengembangan turots ini akan mempercepat Asia Tenggara,
khususnya Indonesia, untuk menjadi pusat keislaman dunia. Oleh karena itulah
kita terus mengembangkan turots
ini,” ujar Khofifah saat menghadiri pembukaan Pameran Turots dalam rangkaian
Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas,
Jombang, Kamis (27/8/2026).
Pameran bertajuk ”Turots di Muktamar” itu
menampilkan manuskrip kuno, kitab, karya ulama Nusantara, dokumentasi
perjalanan Nahdlatul Ulama, serta berbagai peninggalan intelektual para ulama.
Khofifah menilai Jawa Timur memiliki posisi
strategis dalam pengembangan khazanah Islam Nusantara. Keberadaan pesantren,
ulama, lembaga pendidikan Islam, dan tradisi keilmuan yang telah berkembang
selama berabad-abad menjadi modal sosial dan intelektual untuk mengembangkan turots.
Menurut dia, pengembangan warisan intelektual
tersebut perlu diarahkan untuk membangun ekosistem keilmuan Islam. Dengan
demikian, turots
tidak berhenti sebagai benda peninggalan sejarah, tetapi menjadi sumber
pengetahuan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.
Ketua Nahdlatut Turots Lora Ustman Hasan
mengatakan, kekayaan literatur klasik ulama Nusantara masih sangat besar. Dalam
lima tahun terakhir, sedikitnya 60 pesantren telah terlibat dalam gerakan
penyelamatan dan pemuliaan turots.
”Lebih dari 2.000 naskah telah kami
digitalisasikan, dan masih banyak lagi yang belum tersentuh,” kata Ustman.
Ketua Panitia Turots di Muktamar Ayung
Notonegoro mengatakan, pameran tersebut antara lain menampilkan manuskrip
Syaikhona Kholil Bangkalan, karya para pendiri NU, dan berbagai karya ulama
Nusantara.
Selain koleksi manuskrip dan kitab, pengunjung
dapat melihat perjalanan sejarah NU melalui linimasa, galeri ke-NU-an, serta
jejak diaspora ulama Nusantara.
Pameran yang berlangsung di depan kampus
Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) Tambakberas itu terbuka untuk
masyarakat umum. Kegiatan digelar selama rangkaian Muktamar Ke-35 NU, mulai
pukul 09.00 hingga 22.00 WIB.
Rangkaian kegiatan juga dilengkapi Klinik
Turots yang menyediakan layanan dan konsultasi mengenai manuskrip, termasuk
digitalisasi dan restorasi naskah. Selain itu, digelar daurah tahqiq,
musyawarah besar pegiat turots,
ijazahan sanad keilmuan, dan seminar internasional.
Pengembangan turots
dengan demikian tidak hanya diarahkan untuk menjaga peninggalan ulama, tetapi
juga membuka akses yang lebih luas terhadap tradisi intelektual Islam
Nusantara. Upaya itu sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan kekayaan
keilmuan Nusantara kepada masyarakat internasional.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *

