:

Likuiditas Lebaran 2026 Tembus Rp1,370 Triliun

top-news
https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

JAKARTA I MaduraNetwork - Lembaga riset NEXT Indonesia Center mencatat peredaran uang kartal atau tunai untuk kebutuhan Lebaran 2026 mencapai Rp1.370 triliun. Angka ini mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap kuat, meningkatnya konsumsi, serta ketahanan ekonomi domestik yang terjaga.

 

Temuan tersebut didasarkan pada data dari Bank Indonesia yang dianalisis oleh tim peneliti. Nilai uang kartal yang beredar tahun ini mengalami kenaikan signifikan dibandingkan periode Lebaran tahun sebelumnya.

 

Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center, Ade Holis, menyebutkan bahwa jumlah tersebut meningkat sebesar 10,4 persen atau sekitar Rp130 triliun dari Lebaran 2025 yang tercatat Rp1.240 triliun.

 

Menurutnya, peningkatan ini tidak sekadar menggambarkan kesiapan konsumsi masyarakat menjelang hari raya, tetapi juga menjadi indikator menguatnya aktivitas ekonomi hingga ke daerah.

 

Ia menambahkan, peredaran uang tunai dalam jumlah besar menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kepercayaan diri untuk berbelanja, sekaligus menandakan stabilitas ekonomi yang relatif terjaga.

 

Selain itu, indikator penting lainnya adalah besaran dana yang langsung berada di tangan masyarakat untuk dibelanjakan selama periode Lebaran.

 

Data menunjukkan bahwa dana siap belanja di luar kas perbankan menjelang Lebaran 2026 mencapai Rp1.241 triliun. Angka ini meningkat Rp104 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1.137 triliun.

 

Menurut Ade Holis, tambahan likuiditas tersebut menjadi modal ekonomi yang sangat kuat, terutama bagi daerah-daerah tujuan pemudik yang akan merasakan langsung perputaran uang.

 

Ia menjelaskan bahwa uang tunai yang berada di masyarakat akan langsung menggerakkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari perdagangan, transportasi, hingga sektor informal. Fenomena ini semakin diperkuat oleh tingginya mobilitas masyarakat selama musim mudik Lebaran.

 

Berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, jumlah penumpang di berbagai moda transportasi mengalami peningkatan pada periode H-8 hingga hari H Idul Fitri 2026.

 


Sektor transportasi laut menjadi yang paling menonjol, dengan jumlah penumpang meningkat dari 2.336.619 orang pada 2025 menjadi 2.697.459 orang pada 2026. Kenaikan sebesar 360.840 penumpang ini menunjukkan tingginya mobilitas antar-pulau yang berdampak langsung pada distribusi ekonomi.

 

Ade Holis menilai, peningkatan di sektor transportasi laut sangat penting karena mencerminkan pemerataan aliran uang ke berbagai wilayah di luar pusat ekonomi. Ia menegaskan bahwa perputaran uang tidak lagi terpusat di kota-kota besar, melainkan mengalir hingga ke daerah-daerah tujuan mudik.

 

Di sektor transportasi darat, angkutan bus juga mengalami pertumbuhan positif dengan total penumpang mencapai 1.586.595 orang, meningkat dari 1.441.510 orang pada tahun sebelumnya. Moda kereta api turut mencatat kenaikan jumlah pengguna menjadi 1.832.584 penumpang pada 2026, atau bertambah 193.805 dibandingkan tahun sebelumnya.


Sementara itu, sektor penerbangan juga mengalami peningkatan dengan total penumpang mencapai 2.400.544 orang, naik dari 2.328.551 orang pada 2025.

 

Menurut Ade Holis, keterkaitan antara meningkatnya likuiditas dan mobilitas masyarakat menjadi faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menjelaskan bahwa masyarakat tidak hanya memiliki daya beli yang tinggi, tetapi juga memiliki akses untuk membelanjakan uang tersebut di berbagai daerah.

 

Kondisi ini secara otomatis menghidupkan ekosistem ekonomi lokal di berbagai wilayah, terutama di daerah tujuan mudik.

 

NEXT Indonesia Center memproyeksikan bahwa kombinasi antara tingginya dana siap belanja dan arus mudik yang besar akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Dampak tersebut diperkirakan akan terasa kuat pada kuartal pertama tahun 2026, seiring meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat.

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa pergerakan uang dan manusia secara bersamaan mampu mempercepat roda ekonomi hingga ke tingkat daerah. Dengan sirkulasi uang kartal yang mencapai level tertinggi dalam enam tahun terakhir, momentum Lebaran 2026 dinilai sebagai peluang besar bagi penguatan ekonomi domestik.

 

Ade Holis pun menyebut bahwa kondisi ini menjadi indikasi mesin ekonomi nasional sedang bekerja secara optimal. Lebaran tahun ini, menurutnya, bukan sekadar momentum perayaan, tetapi juga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan merata di seluruh Indonesia. (red)

 

https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *