Likuiditas Lebaran 2026 Tembus Rp1,370 Triliun
- Mohammad -
- 27 Mar, 2026
JAKARTA I MaduraNetwork - Lembaga riset NEXT Indonesia Center mencatat peredaran uang
kartal atau tunai untuk kebutuhan Lebaran 2026 mencapai Rp1.370 triliun. Angka
ini mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap kuat, meningkatnya konsumsi,
serta ketahanan ekonomi domestik yang terjaga.
Temuan tersebut didasarkan pada
data dari Bank Indonesia yang dianalisis oleh tim peneliti. Nilai uang kartal
yang beredar tahun ini mengalami kenaikan signifikan dibandingkan periode
Lebaran tahun sebelumnya.
Kepala Peneliti NEXT Indonesia
Center, Ade Holis, menyebutkan bahwa jumlah tersebut meningkat sebesar 10,4
persen atau sekitar Rp130 triliun dari Lebaran 2025 yang tercatat Rp1.240 triliun.
Menurutnya, peningkatan ini tidak
sekadar menggambarkan kesiapan konsumsi masyarakat menjelang hari raya, tetapi
juga menjadi indikator menguatnya aktivitas ekonomi hingga ke daerah.
Ia menambahkan, peredaran uang
tunai dalam jumlah besar menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kepercayaan diri
untuk berbelanja, sekaligus menandakan stabilitas ekonomi yang relatif terjaga.
Selain itu, indikator penting
lainnya adalah besaran dana yang langsung berada di tangan masyarakat untuk
dibelanjakan selama periode Lebaran.
Data menunjukkan bahwa dana siap
belanja di luar kas perbankan menjelang Lebaran 2026 mencapai Rp1.241 triliun.
Angka ini meningkat Rp104 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu
sebesar Rp1.137 triliun.
Menurut Ade Holis, tambahan likuiditas
tersebut menjadi modal ekonomi yang sangat kuat, terutama bagi daerah-daerah
tujuan pemudik yang akan merasakan langsung perputaran uang.
Ia menjelaskan bahwa uang tunai
yang berada di masyarakat akan langsung menggerakkan berbagai sektor ekonomi,
mulai dari perdagangan, transportasi, hingga sektor informal. Fenomena ini
semakin diperkuat oleh tingginya mobilitas masyarakat selama musim mudik
Lebaran.
Berdasarkan data dari Kementerian
Perhubungan Republik Indonesia, jumlah penumpang di berbagai moda transportasi
mengalami peningkatan pada periode H-8 hingga hari H Idul Fitri 2026.
Sektor transportasi laut menjadi
yang paling menonjol, dengan jumlah penumpang meningkat dari 2.336.619 orang
pada 2025 menjadi 2.697.459 orang pada 2026. Kenaikan sebesar 360.840 penumpang
ini menunjukkan tingginya mobilitas antar-pulau yang berdampak langsung pada
distribusi ekonomi.
Ade Holis menilai, peningkatan di
sektor transportasi laut sangat penting karena mencerminkan pemerataan aliran
uang ke berbagai wilayah di luar pusat ekonomi. Ia menegaskan bahwa perputaran
uang tidak lagi terpusat di kota-kota besar, melainkan mengalir hingga ke
daerah-daerah tujuan mudik.
Di sektor transportasi darat, angkutan bus juga mengalami pertumbuhan positif dengan total penumpang mencapai 1.586.595 orang, meningkat dari 1.441.510 orang pada tahun sebelumnya. Moda kereta api turut mencatat kenaikan jumlah pengguna menjadi 1.832.584 penumpang pada 2026, atau bertambah 193.805 dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, sektor penerbangan
juga mengalami peningkatan dengan total penumpang mencapai 2.400.544 orang,
naik dari 2.328.551 orang pada 2025.
Menurut Ade Holis, keterkaitan
antara meningkatnya likuiditas dan mobilitas masyarakat menjadi faktor kunci
dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menjelaskan bahwa masyarakat
tidak hanya memiliki daya beli yang tinggi, tetapi juga memiliki akses untuk
membelanjakan uang tersebut di berbagai daerah.
Kondisi ini secara otomatis
menghidupkan ekosistem ekonomi lokal di berbagai wilayah, terutama di daerah
tujuan mudik.
NEXT Indonesia Center
memproyeksikan bahwa kombinasi antara tingginya dana siap belanja dan arus
mudik yang besar akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi
nasional. Dampak tersebut diperkirakan akan terasa kuat pada kuartal pertama
tahun 2026, seiring meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa
pergerakan uang dan manusia secara bersamaan mampu mempercepat roda ekonomi
hingga ke tingkat daerah. Dengan sirkulasi uang kartal yang mencapai level
tertinggi dalam enam tahun terakhir, momentum Lebaran 2026 dinilai sebagai
peluang besar bagi penguatan ekonomi domestik.
Ade Holis pun menyebut bahwa
kondisi ini menjadi indikasi mesin ekonomi nasional sedang bekerja secara
optimal. Lebaran tahun ini, menurutnya, bukan sekadar momentum perayaan, tetapi
juga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan merata di
seluruh Indonesia. (red)
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *


