“Bisikan Luhur”, Upaya Mahasiswa Uniba Madura Merawat Identitas Budaya lewat Film Horor
- Mohammad -
- 17 Jun, 2026
SUMENEP I MaduraNetwork.id - Di tengah dominasi film horor yang kerap mengandalkan efek kejut dan teror visual, sekelompok mahasiswa di Kabupaten Sumenep, Madura, memilih jalur berbeda. Mereka menjadikan horor sebagai medium untuk berbicara tentang budaya, identitas, dan nilai-nilai yang perlahan tergerus oleh arus modernisasi.
Mahasiswa Program Studi Kajian Film, Televisi, dan
Media (FTM) Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura tengah menyiapkan
peluncuran film pendek terbaru berjudul Bisikan Luhur. Karya tersebut
diproduksi oleh Rawikara Pictures bersama FTM24 Solidarity sebagai bagian dari
upaya menghidupkan ekosistem perfilman kampus sekaligus memperkenalkan kekayaan
budaya Madura kepada publik yang lebih luas.
Mengusung genre horor budaya, Bisikan Luhur
tidak sekadar menghadirkan kisah-kisah mistis yang memancing ketegangan. Film
ini dibangun di atas kegelisahan yang dekat dengan realitas kehidupan generasi
muda saat ini, yakni semakin renggangnya hubungan antara perkembangan zaman
dengan penghormatan terhadap tradisi dan kearifan lokal.
Sutradara film, Nufri Qolbi Haqiqi, mengatakan
bahwa karya tersebut lahir dari keinginan untuk menghadirkan horor yang
memiliki lapisan makna lebih dalam. Menurut dia, rasa takut dalam film bukan
semata-mata ditujukan untuk menghibur, melainkan menjadi sarana refleksi bagi
penonton.
Di balik cerita yang dibalut suasana mencekam,
tersimpan pesan tentang pentingnya menjaga adab dan tata krama sebagai fondasi
kehidupan bermasyarakat. Pesan itu dianggap relevan di tengah perkembangan
teknologi yang menghadirkan berbagai kemudahan, tetapi pada saat yang sama
berpotensi menjauhkan generasi muda dari akar budayanya.
“Modernisasi dan perkembangan teknologi sering kali
membuat sebagian anak muda lupa pada identitasnya sendiri. Melalui film ini
kami ingin mengingatkan bahwa adab dan penghormatan terhadap nilai-nilai yang
hidup di masyarakat tetap harus dijaga, di mana pun seseorang berada,” kata
Nufri.
Cerita Bisikan Luhur berpusat pada
sekelompok mahasiswa yang datang ke sebuah desa dengan membawa cara pandang
modern. Kehadiran mereka semula berlangsung biasa, hingga perlahan muncul
benturan dengan nilai-nilai yang dijunjung masyarakat setempat.
Para mahasiswa dalam cerita itu digambarkan
mengabaikan aturan adat, meremehkan tradisi yang diwariskan turun-temurun,
serta tidak mengindahkan nasihat para tetua desa. Sikap tersebut kemudian
menjadi awal dari serangkaian peristiwa misterius yang mengubah perjalanan
mereka.
Teror demi teror hadir sebagai konsekuensi dari
perilaku yang mengesampingkan penghormatan terhadap budaya lokal. Dari konflik
itulah film mencoba menegaskan bahwa setiap masyarakat memiliki nilai yang
patut dihargai, sekalipun tampak sederhana di mata orang luar.
Lebih jauh, film ini juga membawa pesan mengenai
harmonisasi antara budaya dan agama. Nufri menilai keduanya tidak harus dipertentangkan,
melainkan dapat berjalan beriringan sebagai bagian dari identitas masyarakat
Madura.
Menurutnya, budaya lokal dan nilai-nilai keagamaan
selama ini tumbuh dalam ruang yang sama dan saling memperkuat. Karena itu,
karya sinema dapat menjadi media yang efektif untuk memperlihatkan hubungan
harmonis tersebut kepada generasi muda.
Melalui Bisikan Luhur, para mahasiswa ingin
menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya layak dikenang, tetapi juga dapat
diolah menjadi karya kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman. Film
menjadi jembatan untuk menghadirkan kembali nilai-nilai tradisional dalam
bahasa yang lebih dekat dengan generasi sekarang.
Produksi film ini sekaligus menjadi kelanjutan dari
perjalanan kreatif mahasiswa FTM Uniba Madura yang sebelumnya sukses menggarap
film Sangkolan Kona. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam
mengembangkan kualitas produksi sekaligus memperluas ruang ekspresi bagi sineas
muda di lingkungan kampus.
Kehadiran Bisikan Luhur juga menunjukkan
bahwa geliat perfilman di Madura terus berkembang. Di tengah keterbatasan
fasilitas dan industri yang belum sebesar kota-kota lain, semangat berkarya
kalangan mahasiswa tetap tumbuh melalui berbagai produksi independen yang
mengangkat identitas lokal.
Film ini dibintangi sejumlah talenta muda, antara
lain Alfin Maghfiroh, Yowanda, M. Rusly Al-Farodis, dan Ria Natalia. Sementara
proses penulisan naskah dilakukan secara kolaboratif oleh Andra Prasetyo
Darmawan, Alfin Maghfiroh, dan Ludianto.
Dalam waktu dekat, Bisikan Luhur
direncanakan tayang untuk masyarakat umum, kalangan akademisi, serta komunitas
perfilman di berbagai daerah. Para pembuatnya berharap film tersebut tidak
hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga membuka ruang dialog
mengenai pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman yang
terus bergerak cepat.
Bagi para mahasiswa pembuatnya, horor dalam Bisikan
Luhur bukan sekadar tentang ketakutan terhadap sesuatu yang tak kasatmata.
Ia adalah metafora tentang kekhawatiran yang lebih nyata: hilangnya
penghormatan terhadap akar budaya yang selama ini membentuk karakter sebuah
masyarakat. (rba)
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *


