:

“Bisikan Luhur”, Upaya Mahasiswa Uniba Madura Merawat Identitas Budaya lewat Film Horor

top-news
https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

SUMENEP I MaduraNetwork.id - Di tengah dominasi film horor yang kerap mengandalkan efek kejut dan teror visual, sekelompok mahasiswa di Kabupaten Sumenep, Madura, memilih jalur berbeda. Mereka menjadikan horor sebagai medium untuk berbicara tentang budaya, identitas, dan nilai-nilai yang perlahan tergerus oleh arus modernisasi.

 

Mahasiswa Program Studi Kajian Film, Televisi, dan Media (FTM) Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura tengah menyiapkan peluncuran film pendek terbaru berjudul Bisikan Luhur. Karya tersebut diproduksi oleh Rawikara Pictures bersama FTM24 Solidarity sebagai bagian dari upaya menghidupkan ekosistem perfilman kampus sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Madura kepada publik yang lebih luas.

 

Mengusung genre horor budaya, Bisikan Luhur tidak sekadar menghadirkan kisah-kisah mistis yang memancing ketegangan. Film ini dibangun di atas kegelisahan yang dekat dengan realitas kehidupan generasi muda saat ini, yakni semakin renggangnya hubungan antara perkembangan zaman dengan penghormatan terhadap tradisi dan kearifan lokal.

 

Sutradara film, Nufri Qolbi Haqiqi, mengatakan bahwa karya tersebut lahir dari keinginan untuk menghadirkan horor yang memiliki lapisan makna lebih dalam. Menurut dia, rasa takut dalam film bukan semata-mata ditujukan untuk menghibur, melainkan menjadi sarana refleksi bagi penonton.

 

Di balik cerita yang dibalut suasana mencekam, tersimpan pesan tentang pentingnya menjaga adab dan tata krama sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Pesan itu dianggap relevan di tengah perkembangan teknologi yang menghadirkan berbagai kemudahan, tetapi pada saat yang sama berpotensi menjauhkan generasi muda dari akar budayanya.

 

“Modernisasi dan perkembangan teknologi sering kali membuat sebagian anak muda lupa pada identitasnya sendiri. Melalui film ini kami ingin mengingatkan bahwa adab dan penghormatan terhadap nilai-nilai yang hidup di masyarakat tetap harus dijaga, di mana pun seseorang berada,” kata Nufri.

 

Cerita Bisikan Luhur berpusat pada sekelompok mahasiswa yang datang ke sebuah desa dengan membawa cara pandang modern. Kehadiran mereka semula berlangsung biasa, hingga perlahan muncul benturan dengan nilai-nilai yang dijunjung masyarakat setempat.

 

Para mahasiswa dalam cerita itu digambarkan mengabaikan aturan adat, meremehkan tradisi yang diwariskan turun-temurun, serta tidak mengindahkan nasihat para tetua desa. Sikap tersebut kemudian menjadi awal dari serangkaian peristiwa misterius yang mengubah perjalanan mereka.

 

Teror demi teror hadir sebagai konsekuensi dari perilaku yang mengesampingkan penghormatan terhadap budaya lokal. Dari konflik itulah film mencoba menegaskan bahwa setiap masyarakat memiliki nilai yang patut dihargai, sekalipun tampak sederhana di mata orang luar.

 

Lebih jauh, film ini juga membawa pesan mengenai harmonisasi antara budaya dan agama. Nufri menilai keduanya tidak harus dipertentangkan, melainkan dapat berjalan beriringan sebagai bagian dari identitas masyarakat Madura.

 

Menurutnya, budaya lokal dan nilai-nilai keagamaan selama ini tumbuh dalam ruang yang sama dan saling memperkuat. Karena itu, karya sinema dapat menjadi media yang efektif untuk memperlihatkan hubungan harmonis tersebut kepada generasi muda.

 

Melalui Bisikan Luhur, para mahasiswa ingin menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya layak dikenang, tetapi juga dapat diolah menjadi karya kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman. Film menjadi jembatan untuk menghadirkan kembali nilai-nilai tradisional dalam bahasa yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

 

Produksi film ini sekaligus menjadi kelanjutan dari perjalanan kreatif mahasiswa FTM Uniba Madura yang sebelumnya sukses menggarap film Sangkolan Kona. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam mengembangkan kualitas produksi sekaligus memperluas ruang ekspresi bagi sineas muda di lingkungan kampus.

 

Kehadiran Bisikan Luhur juga menunjukkan bahwa geliat perfilman di Madura terus berkembang. Di tengah keterbatasan fasilitas dan industri yang belum sebesar kota-kota lain, semangat berkarya kalangan mahasiswa tetap tumbuh melalui berbagai produksi independen yang mengangkat identitas lokal.

 

Film ini dibintangi sejumlah talenta muda, antara lain Alfin Maghfiroh, Yowanda, M. Rusly Al-Farodis, dan Ria Natalia. Sementara proses penulisan naskah dilakukan secara kolaboratif oleh Andra Prasetyo Darmawan, Alfin Maghfiroh, dan Ludianto.

 

Dalam waktu dekat, Bisikan Luhur direncanakan tayang untuk masyarakat umum, kalangan akademisi, serta komunitas perfilman di berbagai daerah. Para pembuatnya berharap film tersebut tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat.

 

Bagi para mahasiswa pembuatnya, horor dalam Bisikan Luhur bukan sekadar tentang ketakutan terhadap sesuatu yang tak kasatmata. Ia adalah metafora tentang kekhawatiran yang lebih nyata: hilangnya penghormatan terhadap akar budaya yang selama ini membentuk karakter sebuah masyarakat. (rba)

https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *