:

Viaduk, Jejak Jalur Kereta Kolonial dan Lanskap Karang Unik di Karduluk Menunggu Sentuhan Konservasi

top-news
https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

SUMENEP I MaduraNetwork.id - Di ujung pesisir selatan Madura Timur, sebuah bangunan tua berdiri sunyi di tengah semak dan hamparan batu karang. Lengkungan-lengkungan penyangganya masih kokoh meski usia telah melampaui satu abad. Warga Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, mengenalnya sebagai viaduk—peninggalan masa kolonial yang kini nyaris luput dari perhatian.

 

Bangunan itu berada di Dusun Blajud, hanya beberapa ratus meter dari bibir pantai. Tidak ada prasasti, papan informasi, ataupun penanda sejarah yang menjelaskan kapan viaduk tersebut dibangun. Namun, dari karakter arsitekturnya, warga dan pemerhati sejarah memperkirakan bangunan itu berasal dari awal abad ke-20, ketika pemerintah kolonial Belanda membangun berbagai infrastruktur transportasi di sejumlah wilayah Nusantara.

 

Berbeda dengan jembatan layang modern, viaduk dirancang untuk membawa jalur kereta api melintasi bentang alam yang sulit, seperti lembah, sungai, atau cekungan. Struktur bangunannya ditandai deretan lengkungan dengan pilar-pilar pendek yang tersusun rapat, menciptakan bentuk khas yang hingga kini masih dapat dikenali di Karduluk.

 

Kini, kawasan tersebut tercatat sebagai aset PT Kereta Api Indonesia (KAI). Meski demikian, jejak rel kereta yang dahulu melintas sudah tidak lagi terlihat. Yang tersisa hanyalah bangunan penyeberangan yang menjadi saksi bisu sejarah transportasi di Madura.

 

Keunikan kawasan ini tidak berhenti pada viaduk. Di sekitarnya terdapat sebuah sumur tua yang telah lama tidak digunakan serta bentang batu karang yang oleh warga disebut Tosolong atau Bato Solong.

 

"Bato Solong sudah dikenal masyarakat sejak dulu," kata Kepala Dusun Blajud, Abdul Hadi, kepada Media Center.

 

Hamparan batu karang itu membentuk rongga-rongga alami menyerupai terowongan. Permukaannya yang tajam dan licin membuat pengunjung harus berhati-hati saat menjelajahinya. Dari puncak batu karang, pandangan lepas mengarah ke Selat Madura. Ketika cuaca cerah, garis pegunungan di bagian timur Pulau Jawa tampak jelas di kejauhan.

 

Di atas gugusan batu itu terdapat dua bangunan menyerupai makam. Namun, menurut Abdul Hadi, keduanya bukan situs pemakaman bersejarah.

 

"Itu makam buatan. Bukan makam sungguhan," ujarnya.

 

Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar dua kilometer dari Balai Desa Karduluk melalui jalan kampung menuju pesisir. Akses yang masih sederhana membuat kawasan ini belum banyak dikunjungi wisatawan.

 

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pelestarian cagar budaya dan pengembangan wisata berbasis sejarah, keberadaan viaduk Karduluk menghadirkan ironi. Bangunan yang merekam jejak infrastruktur kolonial itu masih berdiri kokoh, tetapi minim dokumentasi dan belum tersentuh pengelolaan yang memadai.

 

Padahal, jika dipadukan dengan lanskap pesisir, gugusan batu karang Tosolong, serta narasi sejarah jalur transportasi kolonial di Madura, kawasan ini berpotensi berkembang menjadi destinasi wisata edukasi yang menawarkan lebih dari sekadar panorama alam. Ia menyimpan kisah tentang perubahan zaman, tentang rel yang telah hilang, tetapi jejak sejarahnya masih bertahan di antara lengkungan batu yang menua.

 

https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *