:

Gubernur Khofifah Tinjau Progres SRT Sampang, Optimistis Putus Mata Rantai Kemiskinan lewat Pendidikan Gratis

top-news
https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

SAMPANG I MaduraNetwork.id - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, meninjau langsung progres pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) di Kabupaten Sampang, Selasa (21/7). Dalam kunjungannya, Khofifah optimistis kehadiran SRT akan menjadi solusi strategis untuk mencetak generasi unggul sekaligus memutus mata rantai kemiskinan melalui akses pendidikan berkualitas dan gratis bagi masyarakat miskin.

 

SRT yang berlokasi di Jalan Batokarang, Kecamatan Camplong, tersebut dibangun di atas lahan seluas sekitar 12 hektare dan menjadi kawasan Sekolah Rakyat Terintegrasi terluas di Indonesia. Kompleks pendidikan itu mengintegrasikan jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam satu kawasan.

 


Saat meninjau lokasi, Khofifah mengaku terkesan dengan kesiapan fasilitas yang telah disiapkan. Menurutnya, keberadaan SRT merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam memberikan kesempatan pendidikan yang layak bagi masyarakat dari kelompok desil 1 dan 2.

 

"SRT merupakan penyiapan pendidikan bagi masyarakat kurang mampu desil 1 dan 2. Hal ini menjadi solusi ampuh dan efektif untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan. Mudah-mudahan menjadi sumber kebahagiaan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara sehingga cita-cita yang mereka susun tercapai semuanya," ujar Khofifah.

 

Ia menyebut Kabupaten Sampang memiliki keistimewaan karena mampu menyediakan kawasan SRT dengan luas terbesar di Indonesia. Berbagai fasilitas penunjang pendidikan juga telah dibangun untuk mendukung proses belajar mengajar secara optimal.

 

"Kategori SRT mulai SD, SMP, dan SMA ternyata areanya terluas se-Indonesia, total 12 hektare. Jadi Kabupaten Sampang luar biasa bisa menyiapkan area terluas se-Indonesia untuk Sekolah Rakyat Terpadu," ungkapnya.

 


Fasilitas yang tersedia di antaranya asrama siswa, ruang kelas digital, laboratorium terpadu, gedung serbaguna, masjid, hingga sarana olahraga seperti lapangan sepak bola, bola basket, bola voli, serta jogging track berlapis rubber.

 

"Kita tadi juga sudah mencoba rubber untuk jogging track, kemudian ada asrama, ruang belajar, masjid, dan tempat olahraga yang juga luar biasa seperti lapangan sepak bola, bola basket, dan bola voli," tambahnya.

 

Selain menitikberatkan pada kualitas akademik, Khofifah juga mendorong penguatan pendidikan karakter dan spiritual melalui penerapan konsep pesantren di lingkungan sekolah. Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Sosial akan menyiapkan guru mengaji sebagai bagian dari pembinaan karakter peserta didik.

 

Ia berharap para siswa dapat memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan positif seperti menghafal Al-Qur'an, pembinaan karakter, serta pengembangan minat dan bakat.

 

"Selain belajar dan berolahraga, anak-anak juga perlu memperoleh penguatan karakter melalui kegiatan keagamaan. Karena itu saya berharap dapat dibangun sinergi sehingga mereka juga memiliki kesempatan menghafal Al-Qur'an maupun mengikuti berbagai kegiatan positif lainnya," katanya.

 

Menurut Khofifah, cita-cita mewujudkan Generasi Emas Indonesia tidak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan melalui program konkret yang mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.

 


Saat ini, pembangunan SRT permanen direncanakan hadir di 18 lokasi di Jawa Timur. Sementara itu, SRT rintisan telah beroperasi di Kabupaten Ponorogo dan Banyuwangi.

 

Khofifah memastikan progres pembangunan SRT Sampang berjalan sesuai target. Seluruh pekerjaan dilakukan dalam tiga sif sehingga diharapkan rampung dalam waktu dekat.

 

"Semua sudah terukur dan kerjanya tiga shift. Empat hari lagi insya Allah sudah 100 persen," ucapnya.

 

Pada Tahun Ajaran 2026/2027, SRT Sampang akan menampung sebanyak 224 peserta didik yang terdiri atas 27 siswa SD, 108 siswa SMP, dan 89 siswa SMA. Saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), jumlah tersebut akan bertambah melalui skema titipan dari sejumlah kabupaten di Madura Raya, yakni 30 siswa SMP dari Pamekasan, 16 siswa SD dan 30 siswa SMP dari Bangkalan, serta tiga siswa SD dan 30 siswa SMP dari Sumenep.

 

Gubernur juga memastikan kebutuhan kepala sekolah telah terpenuhi. Sementara proses pemenuhan tenaga pendidik masih terus dilakukan melalui sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Sampang agar operasional SRT dapat berjalan optimal sejak awal tahun ajaran baru.

 

https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *