Harga Garam Sumenep Anjlok, Petani Terjepit di Tengah Panen Raya
- Mohammad -
- 20 Aug, 2026
AMG Madura dan Komisi II DPRD Sumenep Desak Pemerintah Bertindak
SUMENEP I MaduraNetwork.id - Panen
raya belum tentu membawa kabar baik bagi petani garam. Di Sumenep, harga
komoditas itu justru merosot ketika produksi mulai meningkat. Garam yang pada
awal musim panen sempat dihargai sekitar Rp2.300 per kilogram kini disebut
hanya sekitar Rp1.000 per kilogram di tingkat pembelian pinggir jalan.
Di tingkat petani, harga riil bahkan lebih
rendah. Setelah dikurangi biaya pengarungan dan transportasi, petani disebut
hanya menerima sekitar Rp750-Rp800 per kilogram. Angka itu jauh dari harga yang
dianggap layak oleh petani, yakni sekitar Rp1.500 per kilogram.
Ketua Aliansi Masyarakat Garam (AMG) Madura,
Ubaid Abdul Hayat, mengatakan persoalan harga garam bukan cerita baru. Setiap
produksi meningkat, petani kembali berhadapan dengan pasar yang tidak
memberikan kepastian harga.
“Di tingkat petani realnya sekitar Rp750 sampai
Rp800 per kilogram setelah dipotong biaya pengarungan dan transportasi. Ini
sangat jauh dari harapan kami yang idealnya Rp1.500 per kilogram,” kata Ubaid
dalam program Sumenep Menyapa RRI, Rabu (19/08).
Masalahnya berpotensi semakin pelik pada
September hingga Oktober, ketika panen diperkirakan mencapai puncaknya.
Produksi garam petani disebut bisa mencapai 30-40 ton per hektare. Jika pasokan
membanjiri gudang penampungan sementara tidak diikuti peningkatan penyerapan,
harga berpotensi kembali tertekan.
Di sinilah posisi petani menjadi rentan. Mereka
tidak memiliki banyak pilihan. Garam harus dipanen, diangkut, dan disimpan.
Semua membutuhkan biaya. Sementara ketika harga jatuh, petani tidak memiliki
instrumen yang cukup kuat untuk mempertahankan nilai jual produksinya.
Sebagian petani memilih menyimpan garam sambil
menunggu harga membaik. Namun keputusan itu juga bukan solusi sederhana. Tidak
semua petani memiliki modal dan fasilitas penyimpanan yang memadai. Mereka
tetap membutuhkan uang untuk membiayai produksi berikutnya dan memenuhi
kebutuhan keluarga.
Ubaid menilai pemerintah pusat tidak bisa
melihat persoalan garam hanya dari sisi produksi dan kebutuhan industri. Ada
jutaan kepentingan ekonomi masyarakat pesisir yang ikut bergantung pada
komoditas tersebut.
“Pemerintah pusat harus membuka mata terhadap
persoalan ini. Jangan sampai petani garam hanya menjadi objek ketika produksi
dibutuhkan, tetapi ketika harga jatuh mereka dibiarkan menanggung kerugian
sendiri,” ujarnya.
Menurut Ubaid, lemahnya posisi petani salah
satunya berkaitan dengan belum kuatnya regulasi yang memberikan kepastian
harga. Pemerintah, kata dia, perlu memikirkan instrumen perlindungan yang dapat
bekerja ketika produksi melimpah dan harga pasar jatuh.
“Kami bersuara agar didengar pemangku
kebijakan. Kami sadar kewenangan ada di pusat, tetapi daerah harus menyampaikan
kondisi riil petani di lapangan,” katanya.
Desakan terhadap pemerintah pusat juga datang
dari Komisi II DPRD Sumenep. Anggota Komisi II DPRD Sumenep, Juhari, meminta
persoalan harga garam tidak dibiarkan menjadi masalah tahunan yang berulang
setiap musim panen.
Menurut dia, pemerintah pusat harus melihat
kondisi petani secara langsung, termasuk struktur biaya produksi dan posisi
tawar mereka dalam rantai perdagangan.
“Pemerintah pusat harus membuka mata terhadap
persoalan yang dihadapi petani garam dan tidak menutup diri terhadap kondisi di
lapangan,” kata Juhari.
Ia menilai upaya meningkatkan kesejahteraan
masyarakat harus mencakup sektor garam. Apalagi komoditas tersebut menjadi
salah satu sumber penghidupan masyarakat pesisir Madura.
Juhari mengingatkan agar petani tidak terus
berada dalam posisi sebagai pihak yang menanggung risiko terbesar. Ketika
produksi dibutuhkan, petani bekerja meningkatkan produksi. Namun ketika pasokan
melimpah dan harga jatuh, beban kerugian justru kembali kepada mereka.
“Jangan sampai petani garam terus mengalami kerugian
dan diperlakukan seperti sapi perah,” ujarnya.
Karena itu, Komisi II DPRD Sumenep mendorong PT
Garam berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mencari skema yang lebih
adil. Pemerintah daerah, menurut Juhari, juga harus dilibatkan sehingga kebijakan
mengenai garam tidak hanya dirumuskan dari pusat tanpa memahami situasi di
sentra produksi.
Koordinasi tersebut diperlukan untuk
membicarakan berbagai persoalan sekaligus: produksi, penyerapan, kebutuhan
industri, tata niaga, hingga kemungkinan masuknya garam dari luar daerah atau
luar negeri yang dapat mempengaruhi harga di tingkat petani.
“PT Garam dan kementerian terkait harus
berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Jangan sampai kebijakan dibuat sepihak.
Petani harus dilibatkan dan dihargai karena mereka berada di garis depan
produksi garam,” katanya.
Politisi PPP ini juga meminta pemerintah
meninjau kembali kerangka regulasi mengenai garam. Menurut dia, aturan tidak
cukup hanya mengatur produksi dan kebutuhan industri, tetapi juga harus
memberikan kepastian bagi petani.
“Regulasinya perlu dilihat kembali. Aturan
mengenai garam harus mampu menjawab kondisi di lapangan, terutama bagaimana
petani mendapatkan harga yang layak,” ujarnya.
Ia menilai sinergi antara pemerintah pusat, PT
Garam, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten menjadi penting. Setiap
lembaga memiliki kewenangan dan kepentingan yang berbeda, tetapi kebijakan yang
dibuat pada akhirnya akan berdampak langsung kepada petani.
Karena itu, koordinasi tidak boleh berhenti
pada rapat atau pernyataan. Pemerintah perlu memiliki mekanisme yang jelas
ketika harga jatuh, terutama pada saat produksi mencapai puncaknya.
Menurut Juhari, bagi Madura, persoalan harga
garam memiliki dimensi ekonomi yang lebih luas. Di balik setiap petak tambak
terdapat petani, buruh, pengangkut, pedagang pengumpul, dan keluarga yang
menggantungkan pendapatan pada siklus produksi garam. ”Ketika harga merosot,
tekanan itu menjalar ke seluruh rantai ekonomi di desa-desa pesisir,” tegasnya.
AMG Madura dan Komisi II DPRD Sumenep pada
akhirnya menyuarakan tuntutan yang sama: pemerintah tidak cukup hadir setelah
harga jatuh. Kebijakan harus disiapkan sebelum panen raya berlangsung.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *

