Poja, Desa di Gerbang Barat Sumenep yang Menyimpan Jejak Pemujaan Masa Lampau
- Mohammad -
- 04 Aug, 2026
SUMENEP I MaduraNetwork.id - Dari jalan yang menghubungkan Kota Sumenep menuju Kecamatan Gapura, Desa Poja tampak seperti desa-desa lain di Madura. Hamparan permukiman berdampingan dengan lahan pertanian, sementara lalu lintas kendaraan mengalir menuju pusat kabupaten yang hanya berjarak sekitar tujuh kilometer. Namun, di balik kesan kesehariannya, desa ini menyimpan sebuah kisah tentang asal-usul nama yang membawa ingatan pada praktik kepercayaan jauh sebelum Islam mengakar di Pulau Madura.
Poja merupakan desa yang berada di ujung barat Kecamatan Gapura. Letaknya menjadikannya sebagai batas administratif antara Kecamatan Gapura dan Kecamatan Kota Sumenep. Dari pusat Kecamatan Gapura, desa ini dapat ditempuh sekitar delapan kilometer, sedangkan dari jantung Kota Sumenep hanya sekitar tujuh kilometer.
Menurut data Badan Pusat Statistik dalam Kecamatan Gapura dalam Angka 2025, Desa Poja memiliki luas wilayah sekitar 2,59 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai 1.420 jiwa. Posisinya yang dekat dengan ibu kota kabupaten membuat desa ini berkembang sebagai kawasan penyangga perkotaan. Akan tetapi, identitas Poja tidak hanya dibentuk oleh letak geografisnya, melainkan juga oleh narasi sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam bahasa Madura, kata poja dimaknai sebagai doa. Makna itu memiliki kedekatan dengan kata puja dalam bahasa Indonesia, yang merujuk pada penghormatan atau pemujaan terhadap sosok yang disakralkan. Dalam tradisi keagamaan pra-Islam di Nusantara, puja merupakan bagian dari ritual penghormatan kepada dewa-dewa atau objek yang diyakini memiliki kekuatan spiritual.
Kisah mengenai asal-usul nama desa itu masih hidup dalam ingatan masyarakat setempat. Harjo Eko Prayitno, salah seorang perangkat Desa Poja, mengatakan para sesepuh meyakini kawasan tersebut dahulu menjadi lokasi penyelenggaraan ritual pemujaan.
"Menurut satu versi atau dari tutur para orang tua atau sesepuh, di desa ini dulu adalah tempat pamoja'an. Sehingga kemudian tempat ini dikenal dengan nama Poja," ujarnya.
Cerita lisan itu memang belum dapat dipastikan melalui bukti arkeologis yang utuh. Namun, keberadaan tradisi tutur menjadi bagian penting dalam membaca sejarah lokal, terutama di Madura yang banyak mewariskan kisah masa lampau melalui ingatan kolektif masyarakat.
Menariknya, jejak nama Poja juga muncul dalam sebuah manuskrip abad ke-19 yang memuat catatan mengenai hubungan antara desa-desa dan Keraton Sumenep. Dalam naskah tersebut, nama Poja tidak ditulis sebagaimana sekarang, melainkan Porya.
Perbedaan ejaan itu diduga merupakan hasil adaptasi penulis asing atau pejabat kolonial yang berusaha menuliskan bunyi bahasa Madura menggunakan kaidah ejaan yang mereka kenal. Fenomena semacam ini lazim ditemukan dalam dokumen kolonial yang mencatat nama-nama tempat di Nusantara.
Bagi para peneliti sejarah, variasi penulisan seperti itu tidak sekadar persoalan bahasa. Ia menjadi petunjuk bahwa sebuah wilayah telah dikenal dalam jaringan administrasi dan kekuasaan pada masa lampau. Nama Poja, atau Porya, dengan demikian bukan hanya penanda geografis, tetapi juga bagian dari lanskap sejarah Keraton Sumenep.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat Poja kini menjalani kehidupan yang sama dengan desa-desa lain di Madura. Aktivitas pertanian, perdagangan, dan mobilitas menuju Kota Sumenep menjadi denyut kehidupan sehari-hari. Namun, kisah tentang pamoja'an tetap bertahan sebagai identitas yang membedakan desa ini dari wilayah lain.
Bagi sejarawan, cerita-cerita seperti itu bukan untuk diterima mentah-mentah sebagai fakta, melainkan sebagai pintu masuk menelusuri lapisan sejarah yang belum sepenuhnya terungkap. Sebab, sejarah sebuah desa kerap tidak hanya tersimpan dalam prasasti atau bangunan tua, tetapi juga hidup dalam bahasa, nama tempat, dan ingatan yang diwariskan lintas generasi. (bersambung)
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *

